Ramai-ramai soal rencana publikasi majalah Playboy di Indonesia membuat saya kembali berpikir tentang berbagai masalah negeri ini dan usaha pemecahannya.
Saya melihat berbagai usaha ini sifatnya masih sangat sporadis dan reaktif:
- Kasus/masalah timbul.
- Media masa membesarkan atau malah membesar-besarkannya.
- Reaksi dari masyarakat.
- Reaksi dari pemerintah (mungkin).
- Sudah.
Bukan berarti berbagai masalah tersebut tidak penting, tapi dalam konteks yang lebih besar ada yang perlu dan bisa lebih giat kita perjuangkan.
Misalnya kasus formalin. Kalau memang benar berbahaya, apakah hanya formalin saja, bahan kimia yang dipakai dalam pengolahan makanan dan membahayakan kesehatan. Seharusnya kita bertanya lebih luas, bagaimana proses pengolahan makanan di Indonesia, bagaimana sistem kontrolnya, dll.
Apakah majalah yang sekarang sedang diramaikan ini satu-satunya yang menyebar pornografi? Tentu saja tidak. Bagaimana aturan tentang pornografi dan penyebarannya di berbagai media (tidak hanya majalah)? Apakah bisa dikontrol peredarannya? Apakah demand untuk pornografi ataukan supplynya yang memungkinkan untuk diatur?
Untuk setiap kasus ini, energi yang kita kerahkan luar biasa besar. Setelah itu kita berhenti dan beristirahat lama.
Ibarat lari, kita tidak sprint 100 meter dalam waktu 10 detik, kemudian berhenti 20 menit. Seharusnya kita punya perencanaan jangka panjang dalam maraton ini.
Berhubungan dengan ini, ada satu buku yang cukup menarik, baru terbit tahun 2005. Judulnya, “The Moral Consequences of Economic Growth” oleh Benjamin Friedman, Professor di Harvard.
Berhubungan dengan kemiskinan, apakah kita memecahkan masalah yang sekarang ada di depan mata: busung lapar, blt, pendidikan dasar, perbaikan puskemas dll atau lebih berkosentrasi pada tujuan jangka panjang.
[Ini dari reviewnya deLong]
Bagi Friedman, masyarakat modern itu seperti sepeda dengan pertumbuhan ekonomi sebagai rodanya. Masyarakat maju kalau rodanya berputar, dan selama roda tersebut berputar, sepedanya akan stabil. Tapi begitu roda berhenti, kestabilan akan terganggu.
Termasuk dalam kestabilan adalah mencakup demokrasi, kebebasan individu dan kesejahteraan masyarakat.
Saya sendiri masih kurang begitu yakin dengan thesis ini. Dalam masalah kemiskinan, kalau Friedman benar, berarti kebijakan yang
mendukung pertumbuhan GDP dalam jangka panjang akan mengentaskan orang-orang miskin.
Kalau Friedman salah, kira-kira apa rencana jangka panjang kita dalam masalah kemiskinan ini, sebagaimana apa rencana jangka panjang kita dalam berbagai masalah lain?
Tentu saja salah dan benar bukan hanya 2 pilihan yang tersedia. Yang lebih mungkin adalah di antaranya.