Salah satu pelajaran dari bencana di beberapa tempat di Amerika Serikat, terutama di New Orleans, akibat badai Katrina adalah mahalnya harga ketertinggalan. Sebagian besar korban badai ini adalah korban ketertinggalan. Mereka tertinggal secara literal di New Orleans, sementara sebagian besar penduduk meninggalkan kota sebelum badai. Ketertinggalan ekonomi menyebabkan kemampuan transportasi dan mobilitas mereka terbatas.

Sensus tahun 2000 menyebutkan bahwa penghasilan penduduk di daerah yang terkena banjir dari badai Katrina adalah 28% di bawah rata-rata nasional. Sebanyak 27% penduduk di daerah banjir berada di bawah garis kemiskinan, jauh di atas 12% angka nasional. Kendaraan pribadi hanya dimiliki oleh 79% penduduk sekitar New Orleans, sementara 88% penduduk Amerika memiliki alat transportasi pribadi yang vital untuk mengungsi.

Ketertinggalan informasi menyebabkan rangkaian peringatan tentang bahaya badai dan ancaman banjir kurang mengena ke mereka. Tertinggalnya tingkat pendidikan juga merupakan faktor penting dalam pertimbangan mereka untuk mengabaikan peringatan tersebut. Secara geografis, mereka juga tertinggal di daerah yang lebih rawan banjir dan relatif sulit dijangkau. Hanya 51% dari mereka tinggal di rumah pribadi, relatif rendah dibandingkan dengan 66% untuk tingkat nasional.

Marginalisasi FEMA dan Resiko Ketertinggalan

Dengan berbagai kondisi yang serba mengkhawatirkan tersebut, mereka malah ditinggalkan dan dilupakan dalam perencanaan. Apa yang terjadi di New Orleans ini sudah diprediksi dan disusun skenario untuk menghadapinya oleh berbagai lembaga, termasuk Badan Federal untuk Managemen Bencana (FEMA). Tetapi, seperti dikutip harian New York Times, dalam perencanaan tersebut belum ada prosedur penyelamatan terhadap mereka yang tidak meninggalkan kota. Skenario yang ada berasumsi bahwa penduduk harus bisa mengungsi sebelum bencana terjadi.

Langsung atau tidak langsung asumsi ini adalah buah dari paham konservatif yang memegang tampuk pemerintahan federal Amerika Serikat. Pemerintahan konservatif yang ideal adalah pemerintahan minimal. Konservatif percaya bahwa rakyat lebih tahu bagaimana mengoptimalkan sumber daya yang mereka miliki, dan mekanisme pasar akan bekerja untuk menjamin keperluan bersama. Hal ini terlihat jelas pada keputusan pemerintah untuk memotong pajak walaupun dihadapkan pada defisit perdagangan dan pembengkakan anggaran biaya untuk Irak. Potongan pajak tersebut diharapkan bisa membangkitkan ekonomi melalui investasi dan konsumsi swasta.

Kemakmuran Amerika dalam setengah abad terakhir tidak lepas dari asas pasar bebas. Mekanisme pasar memberikan kesempatan berkreasi seluasnya dalam kehidupan. Tetapi kebebasan ini juga menciptakan kesenjangan ekonomi yang cukup besar. Mereka yang tertinggal di awal menjadi lebih tertinggal dalam kompetisi. Pendukung pasar bebas juga mengakui fakta ini, tetapi menunjukkan bahwa kualitas hidup penduduk Amerika Serikat, bahkan yang berada di bawah garis kemiskinan, masih jauh lebih baik dibandingkan kehidupan rata-rata penduduk di banyak negara lain. Katrina telah menunjukkan walaupun kehidupan sehari-hari mereka yang tertinggal tersebut cukup baik, resiko ketertinggalan, terutama ketika bencana menimpa, ternyata cukup fatal. Mereka menjadi korban bencana alam yang sebenarnya cukup bisa dihindarkan.

FEMA yang bertanggung jawab terhadap penanganan korban Katrina, juga menjadi korban minimalisasi peran pemerintah. Perubahan struktur dan pengurangan anggaran di FEMA mengurangi kemampuannya, baik dari sisi SDM maupun perangkat keras. Hal ini berarti pemerintah lokal harus menanggung sebagian beban yang sebelumnya ada di FEMA. Tetapi tingkat kerusakan yang parah dan jumlah korban yang banyak menyebabkan pemerintah lokal kewalahan. Ditambah lagi sumber daya lokal yang sangat diperlukan, seperti National Guard dan teknisi bendungan, telah dikirim ke Irak. Mereka jelas memerlukan pertolongan pemerintah federal.

Kewajiban Pemerintah

Willian Cohen, mantan menteri pertahanan di administrasi Clinton dan juga mantan Senator dari Partai Republik, pernah berkata, “Pemerintah adalah musuh, sampai anda perlu teman.” Bagi konservatif, pemerintah seolah musuh, dan perannya bisa digantikan oleh individu dan pasar. Katrina membuktikan bahwa pemerintah diperlukan oleh kaum yang tertinggal untuk ikut membantu menanggung resiko ketertinggalan mereka, terutama dalam situasi darurat dan yang mempunyai implikasi jangka panjang. Pemerintah tidak hanya harus membantu penyelamatan penduduk ketika bencana alam terjadi, tetapi juga memberikan sarana untuk kelangsungan hidup mereka setelahnya.

Masalah lain, seperti kesempatan pendidikan dan pelayanan kesehatan, kalau tidak ditangani secara benar juga mempunyai implikasi jangka panjang dan resiko cukup tinggi bagi mereka yang kurang mampu. Dalam berbagai kebijakannya, pemerintah hendaknya tidak hanya melihat hasil angka kemakmuran secara rata-rata, tetapi terlebih harus memperhatikan mereka yang tertinggal. Apalagi kalau yang tertinggal itu adalah sebagian besar dari penduduk, seperti di Indonesia.