PIP-PKS Amerika

Zahrina Nurbaiti

Adalah Zahrina Nurbaiti anak kedua dari 6 bersaudara. Iin—begitu biasa disapa—diberi nama oleh sang ayah, (alm) Drs H Ahmad Husein, Zahrina Nurbaiti, yang artinya “Bunga kami yang menerangi cahaya rumah”. Ia lahir dari rahim Hj Zahrona, Jakarta, 27 Juli 1970. Masa kecil Iin dilalui penuh kebahagiaan. Menurut pengakuannya, limpahan kasih sayang dan materi yang diperoleh dari kedua orang tuanya lebih dari cukup. Karena itu pula, menurut pengakuannya membuat dirinya menjadi anak manja.

Pola didikan orangtuanya, yang membuatnya lebih disiplin mengatur waktu. Selain disiplin mengatur waktu,

Iin lebih sederhana, dan mandiri. Tanpa disadari, tipelogi itulah yang membuatnya seorang akhwat (muslimah) yang lebih tangguh. Itu bisa dilihat dari kesehariannya, jika panggilan dakwah memanggilnya, ia siap berangkat di manapun. Termasuk Kota Depok, Pondok Gede, Kota Bekasi Kampung Rambutan, Senen, DKI Jakarta dan lain sebagainya. Dan tak aneh, jika ia terbiasa naik-turun kendaraan umum.

Menurutnya, orang yang membantu agama Allah maka Allah SWT akan memberi pertolongan baik di dunia maupun di akhirat. Ia menyadari bahwa hidup ini pasti tidak akan terlepas dari ujian. Dengan ujian inilah Allah akan mengetahui siapa hamba-Nya yang tetap istiqomah (konsisten). Karena, lanjutnya, Allah tidak membebani hamba-Nya dengan cobaan di luar kemampuannya. Ia berpesan, ada atau tidak adanya kita, dalam barisan da'wah ini. Maka gerbong dakwah tetap terbawa oleh mujahid dakwah yang tetap istiqomah dengan janji Allah.

Iin menceritakan, sejak SD, SMP dan SMA selalu juara kelas. Bahkan, di SMA 6 DKI Jakarta, ia pernah menjuarai Lomba Cerdas Cermat Bahasa Perancis Se-DKI Jakarta bersama dua temannya, Ratna dan Evi. Prestasi itu tak serta-merta diperolehnya dengan mudah tapi dengan kerja keras dan doa orangtua. “Orang tuaku berprinsip, meskipun kami orang Betawi Asli, tapi dalam hal pendidikan harus maju. Harta bisa habis namun ilmu tidak akan habis, bahkan ilmu itu dapat menemani kita hingga liang kubur,” ujarnya bangga.

Setamat SMA, Iin berkeinginan melanjutkan kuliah jurusan Sastra Perancis atau Sastra Arab di UI, namun tak lulus. Dengan kegagalan itu, Iin banyak belajar nilai sebuah kesuksesan dan keimanan kepada Allah SWT. Ia pun sadar dan bangkit kembali meraih cita-citanya. Atas nasihat orangtuanya, ia memutusakan kuliah di IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Politik) Fakultas Komunikasi jurusan Public Relation (Hubungan Masyarakat). Di kampus inilah Iin menjalani hidup barunya dengan penuh keseriusan dan kesungguhan, karena ia yakin bahwa Allah punya rencana lain yang jauh lebih indah.

Awalnya, ia bercita-cita ingin menjadi wanita karir yang sukses dengan gaji tinggi. Namun, rencana Allah jauh lebih indah untuknya. Di tahun kedua kuliah di IISIP, Lenteng Angung, Jakarta Selatan, tepatnya tanggal 1 Januari 1991, ia mendapatkan hidayah menggunakan busana muslimah. Dan melalui IISIP pula ia mampu berinteraksi lebih luas dengan ajaran Islam. Ia lebih banyak menyelam nikmatnya ber-Islam melalui kelompok halaqoh tarbiyah di musalla kampus IISIP.  Selama ikut tarbiyah, keinginan menjadi wanita karir terkubur dalam. Orientasi hidupnya berubah 100 persen, dan memutuskan menikah lebih cepat dengan pria idamanannya.

Tepatnya tahun 1993 memasuki semester 8, orangtuanya mengajak Iin menunaikan ibadah haji. Awalnya ragu, karena alasan menyusun skripsi. Setelah berpikir, ia pun mengambil cuti satu semester guna menunaikan ibadah haji. Sepulang dari tanah suci, skripsi pun kelar dengan predikat cum laude.  Doa selama di tanah suci dikabulkan Allah, 10 Desember 1995 ia dipersunting oleh pria sesama aktivis di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Pria yang beruntung itu adalah Ir Rudy Lesmana.

Memasuki pernikahan tahun ke-13, Iin belum dikaruniai momongan. Berbagai cara ditempuh, namun tangisan bayi yang imut belum juga terdengar dari rahimnya. Bahkan, pernah diprogram oleh dokter  Tengku Yakoeb di Klinik Sam Mary, selama 6 bulan dengan bed rest. Upaya itu belum juga membuahkan hasil. Justru dengan ujian itu, Iin dan suaminya semakin sabar, bijaksana atas karunia dan ujian Allah SWT. “Sebagai orang  beriman, kita harus ikhlas dan ridho dengan segala takdir-Nya, baik yang baik maupun yang buruk, dan masih banyak ibadah lain yang jauh lebih indah bisa kita lakukan untuk dakwah ini,” ungkapnya.

Dengan kondisi itu, Iin makin mencintai sang suami. Bahkan suaminya semakin mencintainya. Dan tak segan-segan menawarinya kuliah lagi yang sempat ia cita-citakan selama ini. Atas dukungan suami dan ibunya, program S2 selesai sesuai rencana. Di tengah obsesi melanjutkan di program S3, ia mendapatkan tawaran dari PKS untuk mewakili masyarakat di DPR RI 2009-20014. Cita-cita melanjutkan S3 ditunda hingga masa kampanye usai digelar.

Awal karir politiknya di PKS, bermula sebagai Ketua Dewan Pengurun Ranting (DPRa) PKS Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Sejak peleburan PK ke PKS, ia diamanahi sebagai Ketua Kewanitaan DPC PKS Pesanggrahan selama 2 periode 2005-2007 dan 2007-2009. Selama dua periode itu, ia lalui dengan penuh tanggungjawab, ikhlas dan enjoy.

 “Ya Allah, jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang senantiasa bersyukur dengan segala kenikmatan yang Kau anugerahi, dan berikan pula keshabaran atas segala ujian yang menimpa kami, dan tetapkanlah
kami dalam Dien-Mu ini, bersama para mujahid dan mujahidah PKS ini, sehingga kesyahidan menemui Kami, amin ya robbal 'alamiin.”

Website Ibu Hj. Zahrina Nurbaiti, SSosI, MM: http://zahrinanurbaiti.blogspot.com/