PIP-PKS Amerika

Abdullah Khaidir

Abdullah Khaidir lahir dan besar dari desa Mekar Sari, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat. Tepatnya 40 tahun lalu Mekar Sari masih masuk daerah teritorial wilayah Bogor, Jawa Barat. Dulu, suasana Cimanggis tergolong desa yang dipenuhi penghijauan dan pepohonan. “Berbeda dengan sekarang, semua jadi beton, ini pengaruh dari tangan-tangan manusia,” cerita Abdullah Khaidir, melalui email yang dikirimnya dari Saudi Arabiyah. Ia menjadi tenaga dai sekaligus guru bantu di Arab Saudi. Karena itu pula, ia dan anak-istri bermukim di sana.

Di Arab Saudi, ia banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan ceramah singkat bagi warga negara Indonesia yang kuliah dan bekerja (TKI) di sana. Berbagai kegiatan yang dilakukan bersama warga Indonesia,

baik pengajian setiap pekannya maupun hanya sekedar kumpul-kumpul menikmati makanan khas Indonesia. Warga Indonesia di Arab Saudi merasa nikmat atau merasakan hal berbeda jika berkumpul sesama perantauan. Melalui perwakilan PKS Arab Saudi, Abdullah Khaidir banyak menemui TKI dan mahasiswa di Arab Saudi. Ia kerap mendengarkan harapan mereka terhadap kampung halamannya, Indonesia.

Ia menceritakan masa kecilnya,  “Main di pematang sawah atau di kebun singkong, dan mandi di bawah pancuran air adalah bagian dari keseharian masa kecilku.” Ia dididik oleh ayahnya KH Ahmad Dasuki (alm) dan ibunya H Marhumah Said (alm) dengan dasar agama yang kuat. Selepas Maghrib di tiap hari, ia dan saudaranya ikut pengajian di kampungnya.

Ayahnya, H. Ahmad Dasuki adalah seorang ulama di Mekar Sari, Cimanggis, Depok yang cukup disegani oleh warga setempat. Itu disebabkan karena ayahnya seorang pendidik yang sangat dikagumi atas jasa-jasanya menyebarkan dakwah Islam.  Begitu pula dengan ibunya, (alm.) H. Marhumah Said. Beliau, kenang Abdullah Khaidir, dipanggil ustazah oleh warga setempat. Karena sang ibu, lanjut Abdullah Khaidir dalam kesehariannya disibukkan mengisi pengajian kaum ibu-ibu di kampung sekitar.

Masa sekolah Abadullah Khaidir dihabiskan di pesantren Miftahul Ulum, Gandaria Selatan, Cipete, Jakarta Selatan. Pesantren mungil, yang tidak banyak dikenal oleh warga DKI Jakarta, tapi telah mencetak seorang ulama besar yang banyak memberi kontribusi pada masyarakat Indonesia, khususnya yang bermukim di Arab Saudi. Meski demikian, ustadz yang dikenal luas masyarakat Indonesia di Arab Saudi ini, merasa bangga dengan pesantren yang telah mengajarinya banyak hal dalam hidupnya. Prestasi yang cukup dibangga saat di pesantren adalah meraih rangking pertama sejak MI (madrasa ibtidaiyah), Tsanawiyah (setingkat SMP), Aliyah (setingkat SMU). Selama di pesantren, ia pernah dipercaya sebagai ketua organasisi santri.

Saat menempuh pendidikan di pesantren, banyak pengalaman menarik yang tak terlupakan. Ia berisah, ketika memasuki kelas aliyah pesantren (setingkat SMU), semua temannya melanjutkan sekolah di luar pesantren dan lebih memilih melanjutkan sekolah di SMU. Dengan kondisi demikian, ia seorang diri melanjutkan di Aliyah. “Mengaji sendiri. Belajar sendiri, dan semuanya sendiri. Namun guru saya, K.H.
Abdussalam Zaini, Lc dengan sabarnya tetap mengajari saya. Hal ini yang mengajari saya bersabar dan ikhlas dalam dakwah ini,” ujarnya.

Bagaimana tanggapanya saat ditunjuk sebagai Caleg PKS DPR RI Dapil II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Luar Negeri)? Ia menjawabnya,  bahwa dirinya tak pernah membayangkan diamanahi tugas yang sangat berat ini. Itu ditambah dengan harapan masyarakat terhadap anggota dewan yang terhormat cukup besar. Namun, dengan shalat istikharah (salat memohon petunjuk), ia memohon kepada Allah SWT jika perkara ini baik buatnya, agamanya, dunia dan akhiratnya serta bermanfaat bagi masyrakat, ia diridhoi melanggeng ke Senayan periode 2009-2014. Allah SWT menjadi pelindunginya, mudahkan dan berkahi langkah pencalonan ini.

Hingga saat ini, dirinya masih tercatat sebagai salah satu pegawai di salah satu kantor di Riyadh, Arab Saudi. Melalui pen-caleg-kan ini Abullah Haidir lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat Indonesia di Arab Saudi. Di tengah kesibukanya berdakwah, ia menerjemahkan dan menyusun buku yang tidak kurang 30 buah buku, dan 25 buletin(karangan dan terjemahan). Buku dan bulletin itu telah dicetak dan disebarkan di wilayah Saudi Arabiyah. Di antaranya, Sirah Nabawiyah, Tafsir Surat Al-Fatihah, Mazhab Fiqh Kedudukan dan Cara Menyikapinya, Kisah Para Nabi, Penjelasan 40 Hadits Arbaín Nawawiyah dan banyak lagi.

Saat ditanya, siapa yang banyak mempengaruhi kehidupan. Ia menjawab, “Ketika masa kecil tentu orangtuanya yang sangat besar pengaruhnya dalam pengambilan keputusannya. Ketika saya tinggal di pesantren, ya para ustadz dan kyai saya, juga kakak-kakak kelas banyak yang saya minta masukannya terkait dengan masalah-masalah pribadi. Usai menikah, peran isteri besar andilnya dalam mengambil keputusan-keputusan saya,” ujarnya. Namun, saat memasuki masa kuliah dan aktif dalam gerakan dakwah, dirinya banyak berdialog dengan murobbi (pembina, red) dan sesama aktifis.